My fault that can not stop loving you, because I should stay away from you. All this will only make you hurt .. fault should also be honest with you .. I'm just too scared .. fear of what would later I faced .. I'm afraid to love you too much...
~oo0000oo~
Seorang gadis tampak sedang bercakap-cakap dengan sahabatnya, gadis itu terlihat gusar. Terlihat dari cara bicara dan gerak tubuhnya, Ia sedari tadi hanya mengaduk-aduk coffeenya saja, tanpa terlihat ada niatan untuk meminumnya.
"Dia terlalu abu-abu buat aku sya..."kata gadis itu hampir berseru, gadis lain dihadapannya yang ternyata bernama Tasya,tidak banyak bicara. Ia hanya terus mendengarkan keluh kesah sahabatnya
"Dia datang dan pergi seenak dia aja, tanpa mikirin perasaanku sya!" gadis itu mengangkat tangannya ke atas, sesekali ia menggigit bibirnya --- ya kebiasaannya saat gusar, dan merasa tidak tenang.
"Sebenarnya dia maunya apa sih sya?!"bentak gadis itu tidak sabar, Tasya masih menatap lurus ke arah temannya itu, mulai angkat bicara
"Kenapa nggak tanya sama dia?"
"Dia selalu pergi lebih dahulu sebelum aku sempat bertanya...,atau..." gadis itu tidak melanjutkan perkataannya, ia diam. kening Tasya berkerut, penasaran dengan kelanjutan kalimat temannya
"Atau.....?"
"Atau dia tidak akan pernah kembali, setelah aku berkata seperti itu...."
"Thas't it! you love him too much, and you're afraid he'll go away forever from your life. at least he still will come to you even though he really hang you right?"seru Tasya,membuat senyuman tipis di wajah cantik temannya
"Well,I have to say....?" gadis itu mengangkat bahunya "Oh Damn you right!" Tasya tertawa mendengar jawaban temannya
"Oke, serius Sya... sekarang kamu tau dimana dia berada?"raut wajah gadis itu berubah serius, dan bahkan hampir menangis. Tasya menggeleng pelan,takut menyakiti peasaan temannya. Gadis itu menarik nafas panjang lalu menghempaskan badannya ke sofa, ia melihat lekat-lekat jendela besar di hadapannya. Terlihat jelas pemandangan matahari yang hampir terbenam dari jendela kaca yang besar itu.
"Kamu nggak coba nyari dia Den?"tanya Tasya pelan, gadis itu -- Denti, menggeleng pelan
"Udah Sya.. hasilnya nihil.." setelah berkata begitu, mereka berdua tenggelam dalam hening. Sampai suara telephone milik Denti berbunyi nyaring. Dengan lemas Denti mengambil hapenya dan sangat terkejut melihat nama yang tertera di hapenya
- Harry is Calling -
Hampir menangis, Denti mengangkat telfonnya. Lalu terdengar suara yang berat diujung sana
"Hallo Denti....?"
"I..iya.. Ka..kamu dari mana aja...?"tanya Denti terbata-bata. Tasya mengernyit, seakan mengerti apa yang dipikirkan Tasya, Denti mengeja nama 'Harry' dengan mulutnya.
"Who?"bisik Tasya penasaran, Denti memutar bola matanya
"Harry...!"bisik Denti, mejauhkan sedikit hape dari mulutnya. Seketika wajah Tasya terlihat ceria, lalu menggerak-gerakkan bibirnya
"Ask him! Ask him!" Denti menggeleng lalu memberi tanda Tasya untuk diam, Tasya merengut
"Sorry.. kayaknya kita harus ketemu..."suara Harry terdengar berat
"Mhmh oke, kapan dimana?"tanya Denti senang, hampir saja ia berteriak. Tasya hanya menggeleng-geleng lalu menyeruput coffeenya
"Lebih cepat lebih baik, di taman kota jam 7 malam ini..."
"Taman kota? oke, ohya aku mau tanya sesuatu...." Denti memberanikan dirinya untuk bertanya semua yang selama ini ia pendam, Tasya terlihat lebih semangat dan serius mempehatikan Denti yang terlihat sedikit gusar
"Apa?"
"Em.. setelah semua ini.. em... apakah kamu.. ehm.. ada.. sedikit saja perasaan untukku...?" tidak terdengar apa-apa di telfon. Hening! Harry tidak menjawab. Denti semakin gusar dan ingin menangis saja rasanya. Harry masih diam, Denti sudah tidak tahan lagi
"Harry! jawab aku...."seru Denti lagi, tapi Harry masih diam. Perlahan Mata Denti mulai bekaca-kaca.. dan gumpalan di matanya sudah tidak bisa dibendung lagi. Denti menangis!
"Harry..."lirih Denti, Tasya segera mendekati sahabatnya itu, dan mengelus pelan punggung Denti
"Jam 7 di taman kota Den, Thanks"jawab Hary cepat, lalu telephone ditutup. Tangisan Denti semakin deras, ia menjauhkan hape dari wajahnya dan menjatuhkannya begitu saja. Tasya langsung memeluk Denti
"Apa katanya?"tanya Tasya pelan, Denti masih terisak dalam pelukan Tasya
"Di..dia.. nggak jawab Sya.. dia cuma.. ngajak ketemuan di taman kota..."jawab Denti terisak
"Kapan?"
"Nanti malam.."
"Aku harap dia tidak terlambat, malam ini aku dengar berita cuaca di kota Paris, akan ada angin kencang dn hujan deras, mudah-mudahan saja perkiraannya salah.. atau setidaknya aku tau Harry bersamamu.."kata Tasya pelan, ia jujur khawatir sekali dengan temannya kalau sudah sepeti ini. Denti mengangguk pelan
"Mhmh.. kira-kira apa yang akan dia katakan Sya?"
"Aku harap dia memberikan jawaban dari semua yang kamu pertanyakan selama ini Den.."
"Itu artinya,aku harus menerima segala sesuatunya dengan lapang dada kan? semua kemungkinan yang akan terjadi?" Tasya mengangguk pelan, Denti kembali menangis, air matanya tidak bisa berhenti mengalir, tapi yang dikatakan Tasya itu benar, Denti mengusap pelan air matanya.
"Pastikan kau akan tetap tersenyum okay?
"Setidaknya jika itu berita buruk, dia tidak mengajakku ke menara eiffel atau tempat romantis lainnya, jadi aku tidak harus lebih terluka kan?haha..."
.......................
Denti melangkahkan kakinya menuju taman Kota, memang Taman kota tidak terlalu jauh dari Apartementnya,jadi dia lebih memilih berjalan kaki saja. Denti mengenakan mantel kulit tebal berwarna coklat, ia memasukkan kedua tangannya kedalam saku bajunya. Angin malam sepoi-sepoi meniup pelan rambut panjangnya. Ia terlihat cantik diterpa sinar lampu di sepanjang jalan.
Tidak lama, ia sampai di Taman Kota. Taman kota terlihat sepi, dengan lampu temaram disetiap sudutnya. Denti tersenyum tipis. Tempat ini tidak terlalu buruk untuk berita baik ataupun buruk..batin Denti. Lalu ia menuju kursi taman,tempat dia dan Harry biasanya duduk bersama.
Denti duduk dan tersenyum-senyum sendiri tiap mengingat masa-masa bahagia dia bersama Harry dulu. Saat Harry memberikan suprise untuk ulang tahunnya di taman kota ini. Awalnya Denti sempat cemberut karna Harry tidak memilih tempat romantis seperti menara Eiffel
"Oh.. eiffel lagi, apakah kau tidak bosan?"keluh harry duduk disebelah Denti, Denti menggeleng pelan
"Tidak.., hellow semua orang menyukai eiffel..."
"Ya.. aku tau, tapi kenapa harus eiffel, masih banyak tempat di Paris yang lebih bagus dari eiffel... Jangan mentang-mentang kamu orang Indonesia dan menganggap hanya Eiffel yang bagus di Paris.."celoteh Harry panjang lebar, Denti terkekeh
"Hahaha... okey.. Taman kota tidak terlalu buruk..."
"Memang, walaupun terlalu sederhana untuk kejutan ulang tahunmu..."
"Tapi,kau kan sudah mencoba sebisamu..." Harry tersenyum,lalu membelai lembut rambut Denti
Denti tersenyum mengingat kejadian satu tahun lalu, tapi sekarang Harry berubah... Dia selalu menghilang begitu saja, dan akan datang sebentar, lalu pergi lagi. membuat rindu Denti menumpuk, seperti cucian yang siap dimasukkan kedalam mesin cuci.
"Oh I miss the old of you,the old us..."
Denti melihat ke arlojinya sudah 15 menit dan Hary juga belum datang, udara dingin mulai menusuk, Denti menarik mantelnya supaya menghangatkan badannya.
Denti tetap setia menunggu Harry, Ia menatap lurus ke arah pohon-pohon di depannya, daun-daun mulai berguguran. Astaga!aku lupa kalau bulan ini musim gugur,pantas saja anginnya kencang seperti ini...
Denti sedikit gusar, jam sudah menunjuk pukul delapan malam. Tapi ia tetap menunggu Harry, ia juga sudah menelpon Harry dan tidak ada jawaban dari Harry,bahkan Harry mematikan telfonnya.
Harry where are you...?dingin sekali disini kau tau.. cepatlah datang, apakah kau baik-baik saja?apakah sesuatu terjadi denganmu? bahkan mengangkat tekfonku saja kau tak mau.. bagaimana aku bisa tau keadaanmu sekarang... tapi aku akan tetap menunggumu Harry...
Waktu berjalan dengan cepat, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Denti menggigil kedinginan, benar kata Tasya anginnya kencang sekali, Denti takut bila hujan datang sebelum Harry..
Denti melirik lagi ke arah arlojinya, oh C'mon Harry.. sudah jam sepuluh! sudah terlalu lama.... Dingin sekali kau tahu..?semakin lama semakin dingin Harry...
buku-buku kuku Denti memutih, wajahnya memucat. Ia kedinginan!
Ponselnya berbunyi, ada nama Tasya tertera di layarnya
"Hallo...."
"Den! kau dimana? sudah larut malam, ayo pulanglah, suruh saja si Harry mengantarmu pulang!"suara Tasya terdengar khawatir, Denti tersenyum tipis
"I'm oke Sya.. ohya Harry belum datang...."jawab Denti susah payah karna kedinginan, bahkan mulutnya saja susah untuk bergerak
"Astaga Den!! lupakan Harry, kau bisa mati kedinginan di sana!!"seru Tasya
"Enggak papa kok Sya.. aku masih mau nugguin Harry..."
"Enggak! gaboleh! aku jemput kamu! tunggu disana!!"belum sempat Denti menjawab, telfon sudah dimatikan oleh Tasya. Denti mencoba bernafas, rasanya susah sekali. Terlalu dingin.. terlalu dingin....
"Ha..Harry... Ha.. Harry..."panggil Denti susah payah, pandangan matanya mulai kabur. Denti mengerjap-ngerjapkan matanya. Tapi hasilanya sama,bahkan tambah parah, tubuhnya terasa oleng. Hampir saja ia jatuh,sampai ada orang yang menagkapnya. Dengan setengah sadar Denti memanggil-manggil nama Harry
"Aku disini Den.. Maafkan aku..." Denti mendengar samar-samar suara Harry,dan samar-samar pula ia melihat wajah Harry yang tersenyum sedih. ia begitu senang tapi terlambat, sedetik kemudia dia pingsan
"I'm sorry den... J'teaime*" (* I love you)
.....................
Denti membuka matanya, dia berada di kamarnya. Dan ada tasya sedang melihatnya dengan raut wajah khawatir. Denti mencoba bangkit, untuk duduk, tapi ia tidak bisa.. badannya terasa lemas..
"Jangan bangun dulu den, kamu masih demam.."kata Tasya pelan "Minum dulu.." Tasya memberikan secangkir teh herbal panas
"Harry dimana?!"tanya Denti, tidak menerima minuman dari Tasya, Tasya menarik nafas kesal
"Lupakan dia Den!"seru Tasya tajam, mata Denti mulai berkaca-kaca
"Ke..kenapa Sya? dia dimana...?"
"Lupakan saja dia Den!"
"Dia dimana Sya?!"tanya Denti sedikit berteriak
"Di..dia.."Tasya terlihat gusar dan hampir menangis, Denti semakin bingung, dan badannya semakin panas saja rasanya, kepalanya pusing
"Dia dimana Sya?!"
"Dia udah pergi Den..."jawab Tasya pelan, bahkan hampir berbisik. Tasya menunduk, Denti semakin bingung,ia seperti orang linglung
"Pergi?pergi kemana?!"tanya Denti menangis, Tasya mengeleng pelan
"Ke..kemana Sya...?!!kemanaaa?!"teriak Denti histeris, ia bangkit dari tidurnya, berdiri. Mengitari kamarnya mencari-cari sosok Harry, Tasya menangis semakin kencang.
"Cukup Den!! cukup!! Harry udah pergi untuk selamanya!!"teriak Tasya, langsung meruntuhkan dunia Denti, Denti terjatuh, teududuk di lantai. Tatapannya menerawang,sementara air matanya turun dengan derasnya, hatinya terasa sakit, sedih, dan merasa kehilangan
"E..enggak.. mungkin..."lirih Denti terbata-bata sambil menggeleng-geleng "ENGGAK MUNGKIN SYA!!!DIMANA HARRY!!" teriak Denti histeris, Tasya hanya menangis tersedu-sedu
"Nggak mungkin..."lirih Denti lagi
"Lupakan dia Den! tadi malam terakhir kali kita bertemu dengannya! dia udah pergi Den! dia udah mau dimakamkan! dan kamu masih nggak percaya?"teriak Tasya tak kalah hsiteris, Denti seakan dihujam oleh beribu-ribu pisau. Ia menangis..dan hanya menangis.. Tapi kenapa Harry??kenapa....?
"Kalau kau sudah siap,aku akan menemanimu ke makamnya..."kata Tasya pelan,memeluk Denti lalu meninggalkan Denti yang masih menangis.
Tapi kenapa Harry...??? kenapa?! Apa semua ini karna aku Harry? maafkan aku.. maafkan aku.. Harry.. please.. kumohon.. datang kehadapanku.. dan buktikan yang diakatan Tasya itu tidak benar! Harry....
Harry.. Aku sangat mencintaimu... aku tahu kau juga mencintaiku kan? Harry... jawab aku Harry...!!!
.......................
Epilog
Tasya merangkul lembut Denti, bersama mereka pergi ke pusara Harry.
Denti sudah bisa melepaskan Harry,setelah sekian lama hidupnya hancur karan kepergian Harry, yang begitu tiba-tiba
Mereka berdua menaburi pusara Harry dengan bunga-bunga di musim semi ini, Denti tidak banyak bicara begitu juga dengan Tasya.
Tiba-tiba Tasya mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya
"Denti.. ada sesatu yang harus kau tahu..."
"Apa itu Sya...?"
"Ini surat dari Harry untukmu..."setelah berkata begitu Tasya meninggalkan Denti sendiri di pusara Harry, Tasya menuju mobil terlebih dahulu
Denti membuka surat itu,dan mendapati tulisan Harry yang khas
Dear Denti
Hai den... aku harap saat kau membaca ini,kamu dalam keadan baik dan sedang tersenyum..
Hei.. aku mau minta maaf, atas sikapku selama ini yang sering membuatmu menangis..
Aku minta maaf, karna tidak seperti dulu lagi, aku datang dan pergi begitu saja...
Kau tahu? Semuanya seakan meruntuhkan duniaku saat Dokter menyampaikan aku terkena kanker otak, aku mulai menjauh darimu Den, karna aku sudah tidak punya banyak waktu lagi, dan aku pikir menjauhimu adalah cara yang tepat untuk membuatmu membenciku,dan tidak akan membuatmu lebih sedih lagi...
Dentiku sayang.. aku minta maaf malam itu aku terlambat... terlambat sekali... aku terlalu takut untuk bertemu dneganmu..., aku terlalu takut untuk melihatmu menangis.. Aku terlalu takut untuk mengucapkan selamat tinggal..
Denti, kau harus tau aku sangat mencintaimu... aku sangat menyayangimu.. aku tidak pernah ingin mendapat penyakit ini, dan pergi meninggalkanmu.. tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi...
Sekarang, aku sudah tidak bisa bersamamu lagi.. tetaplah menjadi Denti yang kukenal selama ini, jangan merubah dirimu karna kepergianku! kau harus janji akan tetap ceria! karna masih banyak orang yang menyayangimu.. apalagi Tasya.. kau harus berjanji Denti! berjanjilah! dengan begitu aku akan tenang...
I love you Denti...
Harry~
Air mata Denti jatuh dengan sempurna, Ia memeluk surat itu dan tersenyum
Aku janji Harry... aku akan tetap ceria.. I love you too.. Aku janji.. aku janji....
Denti lalu berlari ke tempat mobilnya terparkir
"Tasya!! jangan coba-coba bawa lari mobil gue yaaa!!"teriak Denti tersenyum,lalu menghapus air matanya. Tasya tertawa
"Enak aja lo, mobil gue sejuta yang kaya gini..!!"
"Hahaha sejuta tapi dalam mimpi kan?" Denti sudah sampai di depan Tasya, mereka tertawa bersama.
"Aku seneng kamu bisa ceria begini Den..."kata Tasya sungguh-sungguh, Denti tersenyum
"Aku sudah janji sama seseorang Sya..."jawab Denti tersenyum
"Ha?" Tasya tidak mengerti apa yang dimaksut Denti, Denti tertawa. Lega.. lega.. sekali rasanya...
-SELESAI
Nih Buat Aulia Eka Denti, pesanan lo udah gue kasih nihhh :) {}
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


TASYA? TASYAAAA? *oke ini lebay*
BalasHapus"Enak aja lo, mobil gue sejuta yang kaya gini..!!"
udah senyum angkuh gitu pas baca yg ini, eh pas baca yg selanjutnya jd bikin ilfil ngek -__
sengaja emang gue buat elu sama denti,kalau natasia mah nama lu udah kebanyakan di cerita gue -_-
BalasHapusjelek ya ceritanya hehe
apik ndaaaa suwer VVV
BalasHapuseh iya, kenapa setiap cerita cowoknya harus pada mati semua yaa... wkwk berjanda mak ._.V
gatau nat, enak aja gitu liat perna wanitanya menderita hahahahaha *tawajahat*
BalasHapusAPIIKKK KAKA KAWEE!! :D Iya nih, kenapa harus mati? Tak kirain, gue mau dikasih surprice yg membahagiakan sama Harry, eh malah surpricenya Harry (dlm cerita) mati-_-
BalasHapuskaka kawe?-_______-
BalasHapushaha seperti yang sudah kukatakan, ada kebahagiaan tersendiri meliuhat peran wanitanya menderita hahahaha! *tawa hajat*