Simpang 5 Malam Itu... {1}

   Aku mentap lurus ke arah jalanan. Ramai sekali... 
Jika kau berada diposisiku saat ini, kau akan melihat orang tertawa , bercengkrama, tersenyum, dan yang langsung tersirat dipikiranmu adalah 'kebahagiaan' . Bagaimana bahagianya mereka saat ini. 
  Aku bukan bagian dari mereka, Aku hanya seorang pengamat yang malang. Aku bukan mereka yang bahagia, bukan mereka yang asik bermain inline bersama teman, keluarha atau pasangan.
  Aku hanya seorang pengamat yang tengah duduk disalah satu meja kosong yang tepat berada disebrang jalan tempat mereka bermain inline.
  Dihadapanku hanya ada kursi kosong yang sangat kontras dengan pemandangan dibaliknya, berjubel-jubel orang sedang menikmati malam ini. Ada yang tersenyum kecut ketika hampir jatuh karena belum mahir bermain inline, ada yang bergandengan tangan bermain inline bersama.
  
  Kau tahu saat aku bilang kursi kosong, itu berart hanya ada aku. thats mean I'm alone...
  Kau tahu rasanya berada sendirian dengan pikiran yang kacau dan hanya bisa melihat kebahagiaan orang disebrang sana. Hanya melihat..., tidak bisa menjamah, apalagi merasakan...
Mungkin kau akan berseru "Kenapa tidak pergi saja kesana. Apa salahnya?"
Tidak...aku tidak bisa... aku menunggu seseorang, seseorang yang bahkan aku tahu tidak akan pernah datang.

   Aku sudah menghabiskan cangkir coffee ketigaku, tapi aku tetap disini sendiri. Dia tidak datang.... dia tidak datang.... lagi.....
Malam ini, tepat malam ke-tujuh aku menunggunya di tempat ini. Aku tidak mengerti apa yang ada dipikirannya, apakah dia tidak merasa iba denganku yang sudah menunggu terlalu lama? Tidak.. aku tidak mempersalahkan waktunya, walau kadang aku sering merutukinya. Yang aku permasalahkan adalah sakitnya, perihnya, sendunya,dan kosongnya hatiku karenanya..., karena menunggu kedatangannya...

   Kapan aku bisa bersamanya menikmati malam ramai di Simpang 5 ini? kapan aku bisa berhenti mengangisi ketidak hadiranmu? Aku juga ingin seperti mereka disana, aku tidak mau hanya menjadi pengamat, aku ingin terjun kesana dan bahagia selayaknya mereka...
   Kapan kau akan datang...?

"Permisi mbak...." kau sudah datang?tidak.. kau belum datang, ini bukan kamu...

"Iya?"

"Ini coffenya..." wanita paruh baya itu, meletakkan secangkir coffee dihadapanku. Aku mengerutkam kening

"Maaf mbak, tapi saya tidak memesan coffeenya....." salah,bukan tidak.. tapi belum...

"Saya hanya menuruti pesanan mbak, dan coffee ini sudah dibayar kok..."jawabnya lalu pergi. 

Aku harus bilang apa? cangkir coffee terakhirku juga sudah hampir habis, mungkin sebenarnya dia sudah ada disini sejak lama, dan kasihan kepadaku. Kasihan melihat mata sayuku..

"Boleh aku duduk disini?"  siapa lagi yang datang huh?! Aku menoleh melihat wajah asing dihadapanku

"Tidak" jawabku singkat, dahinya mengerinyit

"Kenapa? kau sudah minum coffeenya?"

"Kau tidak boleh duduk di kursi ini... jadi ini darimu?" Tanpa menggubrisku ia menarik salah satu kursi kosong dari meja lain, lalu duduk di hadapanku

"Bagaimana kalo sekarang? bolehkan? aku kan tidak duduk dikursi itu..." katanya sambil tersenyum lalu menunjuk kursi yang kusimpan khusus untuk 'kedatangannya'

"Terserah kau saja...."

"Baiklah. Apa kau menunggu seseorang?" pertanyaannya membuatku ingin menangis saja

"Iya"

"Tapi dari tadi aku perhatikan tidak ada yang datang, kau juga tidak mencoba menghubunginya..."

"Bukan urusanmu!"

"Maaf, hanya saja aku penasaran. Apakah kau tidak pernah melihatku?"

"Tidak" Aku hanya menjawab singkat saja, aku pikir dia bukan siapa-siapa dan aku tidak perlu banyak menjelaskan.

"Astaga, padahal malam ini malam ketujuh aku memperatikanmu dari kursi di pojok sana" ia berbalik dan menunjuk meja kosong yang berada empat meja dibelakangku.

"Aku tidak melihatmu" jawabku datar, tidak mengalihkan pandanganku dari bundaran simpang 5

"Kalau boleh aku tahu...."

"Tidak!" potongku cepat. Sebenarnya apa mau pria ini? 

"Apakah aku menganggumu?" tanyaku tiba-tiba, dia menggeleng

"Tidak"

"Apakah aku mengenalmu?"

"Tidak"

"Terus apa yang kau lakukan disini?" tanyaku kesal, dia tersenyum geli. Senyum itu..........

"Aku hanya ingin menemanimu. Bagaimana kalau kita bermain inline? aku yang bayar.." serunya tiba-tiba. Mataku membesar

"Tidak aku tidak mau"

"Ha?kenapa? kau aneh sekali..." katanya sambil menggaruk-garuk kepalanya. Aku memandang pria dihadapanku itu. Tampan....

"Aku akan pergi kesana, tapi tidak denganmu......" aku melunakkan suaraku, dan sekarang terdengar seperti decitan. 

"Kau akan pergi dengan orang yang kau nantikan itu ha?" mendengar perkataannya, hatiku terasa sesak, pandanganku mulai kabur. Aku menggigit bibirku menahan tangisku

"Iya.." jawabku dengan suara bergetar, ia menatapku. sorot matanya terlihat iba. 

"Kau sama sepertiku, kau tahu..." katanya pelan sambil menunduk "Sia-sia...." lanjutnya lagi. Aku menggigit bibirku lebih keras menahan tangisku. Sakit di bibirku tidak ada bandingnya dengan sakit dihatiku. Ah berdarah! bibirku berdarah, dan gumpalan dimataku sudah siap untuk meluncur, tidak.. jangan....

-brsmbng





0 komentar:

Posting Komentar

 

Flickr Photostream

VISITORS