Ia berjalan pelan, membuka kedua jendela dihadapannya. Menarik sepasang kursi dan meja yang ada di sampingnya, kemudian ia duduk di kursi itu, meletakkan secangkir hot chocolate di meja yang sengaja ia posisikan tepat di depan jendela.
Jarinya yang halus dan mungil memijat-mijat pelan pelipisnya. Tatapan matanya yang tajam dan berani kali ini terlihat lelah. Ia meniup-niup hot chocolatenya lalu menyeruput pelan, seraya memejamkan mata. Hujan telah reda. Bau setelah hujan benar-benar menghiburnya, seolah menghipnotis dirinya untuk tidak hanya tinggal berdiam diri dirumah. Dengan sedikit tergesa-gesa ia berdiri dan mengganti pakaiannya. Menambil tas yang selalu lengkap isinya dengan apa yang ia butuhkan, memakai convers biru tuannya. Hampir lupa dengan secangkir hot chocolatenya yang masih tersisa setengah, segera ia meminumnya perlahan. Kedua kakinya diketuk-ketukkan dilantai dengan tidak sabar, minuman itu terlalu panas untuk dihabiskan sekali teguk.
~OOOO~
Setelah ia menghabiskan tetes terakhir minumannya. Ia segera beranjak pergi ke luar rumah. Menanti bus seraya mendengarkan musik melalui headset. Teriakan kenek bus menyaingi alunan musik di telinga gadis itu. Dengan sedikit berlari ia menaiki bus kota itu. tersenyum pada seorang ibu lalu duduk di sebelahnya.
Lama ia nikmati perjalan dengan bus tua itu sampai akirnya ia turun dan melepas headsetnya. Dengan menghela nafas kesal gadis itu mengetuk-ngetuk pelan sepatunya yang sempat terkena genangan air, lalu ia mengadahkan kepala melihat langit senja yang indah sehabis hujan. jingganya langit membuat moodnya membaik. Kemudian ia melangkahkan kaki masuk ke salah satu bangunan favoritnya, toko buku yang cukup besar. Ia menaiki tanga dan langsung menuju tumpukkan novel.
Ia tersenyum manis saat melihat salah satu buku best seller,lalu meraihnya. tertera disitu "Hujan Senja"
"Udah keluar ternyata hmm" ujar gadis itu pelan. Lalu ia meletakkan kembali buku itu dan matanya mulai mencari-cari judul buku yang menarik untuk dibaca, sampai ia dikagetkan dengan sentuhan lembut di pundaknya, sedikit terkejut gadis itu menoleh, sosok di hadapannya tersenyum. Gadis itu melihat dengan pandangan penuh tanya.
"Hujan kan?" gadis itu mengerutkan kening, lalu mengangguk pelan.
"Boleh minta tanda tangannya?"
"Ha?eh.."
"Lo Hujan Senja kan?" tanya orang itu sekali lagi
"Em iya, tapi kok ...."
"Gue boleh minta tanda tangannya kan?" Oran itu lalu menyerahkan sebuah buku dan tertera nama "Hujan Senja" disana. Hujan yang masih bingung akhirnya tersenyum manis lalu mengambil buku itu seraya merogoh tasnya untuk mengambil bolpoin.
"Namanya siapa?" tanya Hujan sambil menandatangani bukunya
"Tristan"
"Tristan? itu aja?" tanya hujan bingung, tristan tertawa pelan
"Iya, cuma tristan"
"Hmm okay" sahut Hujan cuek, lalu memberikan kembali buku Tristan
"Thanks Hujan" kata Tristan tulus. Hujan hanya mengangguk-ngangguk pelan. Hujan lalu kembali ke aktivitas sebelumnya. Matanya dengan liar mencari buku yang bagus.
"Lo nggak tidur berapa hari?"
"Ha? keliatan banget ya?" Hujan mengusap-ngusap matanya "Lo kok masih disini? eh maaf maaf bukan maksutnya ngusir..."
"Masih pengen nyari buku, Hujan" jawab Tristan santai
"Gue capek banget rasanya" ujar Hujan pelan sambil menusap matanya.
"Kenapa nggak istirahat?"
"Ish lo kok denger omongan gue sih?"
"Ya emang gue budek apa" jawab Tristan, tapi matanya masih membaca buku karangan Hujan
"Hmm gimana buku gue?"
"Bagus, seperti biasanya.:"
"Tumben cowo suka baca novel" ujar Hujan pelan, menghadapi realita bahwa kebanyakan pembaca novel, apalagi karangannya adalah para kaum hawa.
"Karna buku lo bermutu" jawab Tristan lagi, Hujan hanya diam.
"Apa lo harus jadi orang yang berbeda buat bikin cerita yang karakternya nyata gini?" tanya tristan lalu memalingkan wajah ke arah Hujan.
"Enggak, lo cuma butuh mengenali dan mengerti setiap karakter di dalam diri seseorang. Dengan begitu lo bisa ngebayangin gimana cara fikir dan reaksinya terhadap sesuatu. Mungkin kadangg memang nggak sama persis, tapi setidaknya kita udah ada pacuan. Lagian ini karangan, lo bisa buat sesuka lo. itulah enaknya jadi penulis, seolah lo jadi Tuhan dalam cerita lo, melahirkan pemain pemain, menjalankan semuanya seperti yang lo mau. So fun you know" Tristan diam, entah itu karena dia tidak bisa berkata apa-apa lagi, atau karna terpesona dengan gadis dihadapannya yang begitu menggebu-gebu menjawab pertanyaannya.
"Bocah bocah.." akhirnya hanya itu yang keluar dari mulut Tristan
"Hmm yaya..." " ehh.. maksut lo apa?" Hujan memandang tajam ke arah Tristan. Tristan yangg sadar sedang di plototi oleh Hujan, tidak dapat menahan tawa
"Haha wajah lo.. dasar bocah" tawa Tristan, Hujan mengerinyitkan kening
"Maksut lo apa?!" Kali ini suara Hujan sedikit meninggi
"Haha okay okay, easy girl.." Tristan menahan tawanya dan menaruh jari telunjuknya di bibirnya, berharap Hujan tidak berteriak seperti tadi lagi. "Emang lo masih bocah kan?"
"Hmm emangg umur lo berapa tanteee??" tanya Hujan kesal
"Ga sopan nanya umur sama orang yang lebih tua ckckck" jawab Tristan geleng-geleng kepala
"Paan sih lo.." "Kirain tadi orangnya baik, sopan.. eh ternyata.." ujar Hujan pelan. Tristan berdehem seolah mendengar perkataan Hujan, Hujan menatap Tristan dengan pandangan kesal, sedangkan hatinya penuh dengan dumel-an.
"Jujur gue seneng ketemu sama lo Hujan, disini.." Kata Tristan tiba-tiba. Mata Hujan sontak melebar mendenar pernyataan Tristan. "Eh gue pergi dulu, thanks banget buat waktunya. Daaahh bocah.." setelah berkata begitu, Tristan pergi meninggalkan Hujan yang masih mematung
"Cowo aneh!" seru Hujan kesal
~brsmbng


0 komentar:
Posting Komentar