Simpang 5 Malam Itu... {2}

                 Sekarang aku merasa seperti orang bodoh. Untuk apa aku menangis didepannya? Aku tidak selemah itu! bahkan walaupun aku selemah itu, aku tidak harus menangis didepannya.

"Sia-sia?" tanyaku dengan suara bergetar. Ia mengangguk pelan

"Sudahlah, kau tidak perlu berakting seperti itu! Aku tidak mau tau dengan urusanmu!" seruku, sekarang aku sudah bisa menahan air mataku. Mulutku terasa aneh, ya aku tahu ini akibat aku menghisap darah di bibirku. Tapi setidaknya lebih baik begini, tanpa dia harus tau apa yang terjadi denganku.

"Aku tidak seperti itu! aku hanya merasa empati denganmu, karna aku pernah sepertimu!" jawabnya dengan wajah iba. Aku hanya diam. Terserah dia mau berkata apa, semua perkataannya aku anggap angin lalu. 

"Kau tahu aku pernah spertimu.." lanjutnya lagi

"Seperti apa? memangnya aku seperti apa?!" bentakku tidak sabar, memangnya aku seperti apa?!

"Ya seperti ini, menanti yang tidak pasti...." katanya pelan, aku tertawa garing

"Ha-ha kau tahu bagian yang lucu pada ceritamu?" dia mengangkat sebelah alisnya.

"Kau berkata seolah-olah kau mengejekku padahal kau sendiri pernah merasakannuya, Setidaknya kurang lebih begitulah ceritamu padaku, dan..." aku mengangkat jari telunjukku menahannya untuk memotong kata-kataku  "Dan kau tahu? kau tidak harus melakukan ini. Aku tidak mengenalmu dan kau tidak mengenalku. Tidak ada urusan diantara kita." Dia mengangguk masam

"Aku rasa pembicaraan ini sudah selesai, tolong biarkan aku menikmati malam ini." kataku lagi, pelan dan muram.

"Salah jika seseorang datang menemanimu di malam-malam sepimu ini? di malam keraguanmu ini? Aku bahkan tidak percaya kau sudah melupakanku ha-ha" tawanya garing, tapi sorot matanya tidak bisa menipuku, Ia terluka. Sama denganku.

"Kau benar-benar sudah melupakanku?" tanyanya lagi, aku diam. Aku sudah terlalu banyak berbohong.

"TIdak. Kau adalah orang yang melihatku dari belakang sana selama 7 malam." jawabku datar. Datar?tidak juga. Karna kanyataannya aku selalu mencoba terlihat sepeti itu, padahal kebeneranannya jelas berbeda.

"Aku tahu kau masih mengenalku Sarah..." Oh Tuhan dia menyebut namaku, aku tidak bisa menyembunyikan debaran ini. Sampai kapan aku akan terus berbohong? terus membohongi diriku sendiri?

"Sampai kapan kau akan terus berbohong? mungkin padaku, mungkin pada dirimu sendiri.." Dia seperti membaca pikiranku. aku tidak mungkin menangis lagi mendengar perkataannya, aku tidak boleh.

"Aku tidak berbohong.." jelas sekali kalau aku berbohong

"Baiklah Sarah, aku sudah cukup mengikuti permainanmu, kau sudah cukup terluka. Hentikan ini dari sekarang, apa lagi yang kau tunggu?" Aku menatap matanya, mata itu tidak pernah berubah, tatapan itu. Masih seperti yang dulu,masih tetap menenangkan.

"Apa yang kau bicarakan? aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan." jawabku ringan, seolah aku mengatakan yang sebenarnya

"Berhenti bersikap seolah kau tidak mengenalku, tidak mengerti perkataanku dan tidak mengerti apa yang kumaksut!" bentaknya, ya dia membentakku. Dia sudah terlalu menuyudutkanku, dia sudah terlalu mendesakku. Apa yang harus kulakukan sekarang? mataku terasa panas dan pandanganku mulai kabur. Dan lagi aku menggigit bibirku, mencoba menahannya, tapi tidak bsa.

"It hurts.." lirihku sambil menunduk. Setidaknya jika cairan bening ini terjatuh, ia tidak harus melihatnya.

"It hurts.. it hurts..." gumamku, berkali-kali aku mengatakannya terlebih untuk hatiku.

"Sara I know..." katanya lembut, seakan menyentuh sampai ke hatiku. Aku memberanikan menatap mataya, meneduhkan, menenangkan. Sangat....
Kenapa aku baru menyadarinya? kenapa aku baru menyadari bahwa aku merindukannya? Apakah selama ini aku menunggu orang yang salah?

"Mungkin sebelumnya kau harus mengakui pada dirimu sendiri.." Mungkin dia benar...

Aku berbohong... Aku berbohong.. Aku berbohong tidak mengenalnya, aku berbohong menganggapnya orang asing, aku berpura-pura seakan aku tidak pernah bertemu dengannya. Aku berbohong tidak pernah berurusan dnegannya. Karna faktanya aku meninggalkannya! aku meninggalkanna demi seorang pengecut yang meninggalkanku. Dan itu berarti aku seorang pengecut.
Aku bodoh, bodoh karna meninggalkan orang yang mencintaiku dan sbenarnya juga kucintai..
Kenapa aku begitu bodoh? kenapa aku menyia-nyiakan waktuku untuk seseorang yang tidak akan pernah datang. Bahkan jika dia datang , tidak akan memberi apa-apa untukku.

"Sarah..." panggilnya lagi

"Apakah yang selama ini kau tunggu itu..... aku?" aku berusaha berbicara, aku tidak mau tangisku pecah. Kemudian dia tersenyum masam.

"Ya.. bodohnya aku..." jawabnya. sakit. aku terluka. kenapa dia berkata seperti itu? "Dan lebih bodoh lagi, sampai sekarang aku masih menunggunya disaat dia menunggu orang lain. Saat itu --- saat kau memilihnya, aku juga sepertimu. Aku menunggu, aku tenggelam dalam kesedihanku, aku menutup diri. Aku menunggu dan terus menunggu sesuatu yang tidak pasti ha-ha" dia tersenyum, aku tahu dia tulus tersenyum. Bodoh! Bodoh! kenapa dia harus menungguku padahal dia tahu menungguku itu tidak pasti, terus kenapa dia masih menungguku? pertanyaan yang sama untuk dirikku, Tapi hatiku sekarang terasa lebih sakit. Bagaiamana kalau dia berhenti menungguku? Apakah dia sudah berhenti menungguku? apakah dia membenciku? apakah aku terlalu menyakitinya? apakah dia sudah tidak mencintaiku lagi? Kalau iya, aku memang pantas mendapatakannya.

"Aku memutuskan untuk berhenti menunggumu.." katanya pelan, Aku menarik nafas. Sakit..sakit sekali. Kenapa sesakit ini? Pipiku terasa hangat, aku menangis.

"Aku tahu...." Isakku

"Aku berhenti menunggumu...... dengan cara seperti ini. aku berhenti menyendiri, aku berhenti terlalu tenggelam dalam kesedihanku. Aku menunggumu dengan cara yang berbeda. Aku kembali ceria seperti dulu. Tidak ada yang berubah, bahkan hatiku masih seperti dulu. Aku rasa hatiku sudah permanen mencintaimu ha-ha" Aku tersentak, kutatap matanya. Tatapannya memang tidak pernah berubah.

"Maafkan aku.. ma.. maafkan aku..." ucapku tulus dengan terbata-bata, airmataku mengalir dengan lancar, seakan tidak akan pernah berhenti.

"Tidak, ini bukan salahmu.. ini hanya kesalah pahaman saja.."

"Kesalah pahaman bagaimana?" tanyaku tidak mengerti, aku jelas-jelas sudah mengkhianatinya.

"Kau hanya salah paham dengan perasaanmu..." jawabnya dengan senyum tulus, aku diam. Dia benar. 
Aku hanya salah paham dengan perasaaku, kedengarannya hal kecil tapi telah melukai dua hati. Aku dan dia, kami sama-sama terluka.

"Menurutmu aki bodoh kan?" tanyaku pelan "Vino..?" lanjutku. Dia kembali tersenyum

"Aku senang kau menyebut namaku, aku merindukan saat dimana kau menyebut namaku seperti ini.." aku tertawa kecil

"Jadi bagaimana menurutmu? apakah orang dihadapanmu ini bodoh Vino?"

"Ya... tidak. Menurutku tidak, dia hanya terlalu lugu dan tidak mengerti dirinya sendiri, apalagi perasaannya." aku tersenyum masam mendengar jawabannya.

"Aku merindukanmu Vino.." gumamku, matanya mendelik

"Apa?"

"Ah tidak.."

"So, bagaimana jika kau bertemu dengannya Sarah?"

"Pertanyaan yang bagus. Aku akan... akan.. yah aku tidak akan melakukan apa-apa" jawabku bingung, dia tertawa

"Apakah kau akan menganggapanya sebagai seseorang yang kau pilih sampai meninggalkan orang yang mencintaimu, dan orang yang kau tunggu selama ini. Atau kawan lama yang tidak sengaja bertemu?"

"Aku lebih memilih yang kedua."

"Baiklah, karna sekarang dia ada disini.." Mataku terbelalak

"Disini? dimana?" seruku panik, dia tersenyum lagi. Aku mengahapus sisa air mata di pipiku.

"Dibelakangmu.." aku lansung berbalik dan mendapati seorang pria yang sedang berjalan menuju ke arahku. Lalu aku melihat, melihatnya tersenyum! melambai ke arah... ke arahku! dia melambai ke arahku! Jantungku berdegup kencang. Anehnya tidak ada rasa sakit, walaupun dia bersama orang lain.

"Hai Vino Sarah! kalian disini juga?!" serunya dengan cengiran

"Tentu saja Reno. Mau bergabung?" jawab Vino Riang. Aku melihatnya. Dia tidak berubah,dia masih seperti dulu, hanya saja bukan aku yang ada disisinya sekarang. 
 Dia - Reno, duduk di kursi yang memang kusiapkan untuknya. Lucu.

"Apa kabar Sarah?" tanyanya, aku tersenyum. Memang sekarang dia seperti kawan lama yang tidak sengaja bertemu.

"Baik.. lebih baik..sangat baik.." jawabku tegas, lalu menatap mpenuh arti ke arah Vino. Reno tersenyum puas dan mengangguk-angguk.

"Ohya kenalkan ini Diana!" serunya bersemangat, lalu gadis disebelahnya mengulurkan tangan sambil tersenyum manis.

"Selera yang bagus Ren.." gurauku. Gadis itu -- Diana tersenyum dengan wajah merona. Dia memang lebih baik untuk Reno, dan Vino memang yang terbaik untukku.

Aku tidak mau salah lagi dengan perasaanku, aku tidak mau lagi terus-terusan membohongi perasaanku.
Ketika kau mencintai seseorang, kau hanya harus mencintainya, tidak perlu ada kebohongan.
Beruntung karna dia tidak pergi saat kutinggalkan, beruntung dia benar-benar mencintaiku dan begitu juga denganku.

-selesai-










1 komentar:

 

Flickr Photostream

VISITORS