" Kadang pernah nggak terbesit dipikiran lo, saat dimana lo harus nentuin pilihan, yang menurut lo harusnya pilihan itu gak ada, harusnya lo nggak disuuh milih, lebih tepatnya lo nggak dipaksa milih? Karna sebenarnya lo milih pilihan yang ada atau lo nggak milih sekalipun, sialnya itu tetap pilihan.
Gimana kalo lo jatuh di dua hati? gimana kalau lo harus milih satu dari dua orang yang berarti dalam hidup lo? Apa lo bakal tega ninggalin salah satu dari mereka? apa lo nggak ngerasa kehilangan?
Awalnya mungkin lo bakal seneng banget karna ada orang yang bener-bener sayang sama lo, bahkan dua orang. Tapi... ga lama lagi lo pasti bakal ngerasain apa yang namanya dilema. Lo milih hati orang pertama, dan hancurin hati orang ke-dua dan setengah hati lo juga bakal terluka. Lo ngerti maksut gue? karena walaupun lo milih hati orang pertama, tapi setengah hati lo ada di orang ke-dua..
Jadi apa yang lo lakuin? hati siapa yang akan lo pilih? hati lo... atau hati mereka?
Hmm gue bakal kasih satu lagu yang pas banget buat topik pembicaraan kita tadi.. check it out guys.. " Nadin menghempaskan tubuhnya ke kursi empuk yang sedari tadi ia dudukkin. Ia meemijit-mijit pelan pelipisnya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah kaca besar studio yang langsung menuju ke pemandangan jalan raya yang ramai.
"Curhat muluuu!!" teriak Leni, sambil menepuk pundak Nadin. Nadin terkejut dan refleks melepas earphonenya. Mengerutkan kening dan menatap heran Leni.
"Apaan sih.." keluh Nadin pelan
"Lo tuh yang apaan sih, jadi penyiar radio isinya curhaaat muluu..! lo tuh udah out of topic berapa kali sih Din? isinya curhatan hati lo yang isinya cinta dua hati itu, alay lo..."
"Gue ga curhat Len, lagian pendengar setia juga seneng dengerinnya, apalagi kalo suasanannya mendukung gini!" jawab Nadin sedikit sewot sembari menunjuk kaca besar yang ada di hadapannya tadi, yang memperlihatkan hujan gerimis di sore hari.
"Hahaha itu sih lo yang galau Diinn! pake bawa-bawa pendengar setia lagi hahaha..."
"Haha emang gue galau ya? duh gue ma sibuk Len, jadi ga sempet galau tuh..." jawab Nadin tersenyum tipis.
"Iya sibuk, sibuk ngurusin masalah hati yang ga kelar-kelar kan? hahaha..." baru saja Nadin ingin membalas godaan sahabatnya, Leni sudah lebih dulu melarikan diri.
"Sialan lo Leen -_- kesini gak loo!! heeehh Leeenn!!" teriak Nadin nggak sabar, Leni hanya tertawa dari luar ruangan siaran Nadin.
"Yah setidaknya gue gasuka sama pacar orang.." kata Nadin pelan mengangkat bahu
Sadar lagu yang tadi ia putarkan selesai, Nadin memulai siarannya lagi. Sudah banyak sms yang masuk dari pendengar siaran Nadin, rata-rata menanggapi dengan jawaban-jawaban galau yang tetep aja nggak ada jalan keluarnya.
"Okeeh tadi gue uda bacain sms sms kalian, mention di twitter juga. Haha paraah kok ga ada yang ngasih solusi sih? malah galau semua ckckck... Nah karna kayaknya lagi seru-serunya bahas cinta dua hati itu hahaha, gimana kalo kalian nelfon kesini aja? yang mau ngomong-ngomong langsung sama Nadin mungkin? haha Nadin tunggu ya.."
Belum lama setelah berkata sepetiitu, ada pendengar yang menelfon. Dengan semanagat Nadin mengangkat telfon.
"Haiiii.. akhirnya ada yang nelfon juga haha.." sapa Nadin riang
"Hai Nadin.." sahut suara disebrang sana, Nadin diam sebentar ia merasakan ada yang janggal, lalu sedetik kemudian ia kembali menjawab
"Mau ngasih solusi topik pembicaraan tadi? atau lo mau curhat atau apaaa?"
"Mau bahas topik pembicaraan tadi.." jawab penelfon, Nadin tersentak ia tau pemilik suara ini, pantas dia merasa ada yang janggal dengan suara penelfon
"Ya apa?"
"Nadin, mau bagaimanapun lo harus milih salah satu dari mereka..." Nadin diam beberapa saat
"Iya lo benar sekaliiii.. tapi sebenarnya kalo dipikir-pikir nggak milih juga gapapa dong?" jawab Nadin dengan nada ceria. Nadin memang pintar menyembunyikan perasaannya.
"Hmm, Nadin nggak tanya nama gue siapa?" Nadin diam lagi, ia menarik nafas panjang. Tanpa gue tanya pun gue udah tau siapa lo...
"Oh iya gue lupa, nama lo siapa?"
"Gue Rendy.."
"Oh oke, thanks ya Rendy udah mau nelfon." stelah berkata begitu Nadin langsung memutuskan hubungan telfon.
Gue tau kalo lo Rendy.. gue ga pernah lupa sama suara lo, kenapa lo yang nelfon bego... batin Nadin sedih.
*****
Nadin mengambil jaketnya yang ia taruh di meja siaran. waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. kebetulan memang program siaran khusus Nadin pada malam dan siang hari.
Ia keluar dari ruangannya dengan wajah ellah. Nadin ingin segera sampai ke rumah dan beristirahat.
"Mau pulang?" sebuah suara tanpa sosok mengangetkan Nadin yang sedang berjalan menuju luft. Nadin refleks berbalik badan dan mendapatkan sosok yang sangat familiar untuknya. Wajah dihadapannya tersenyum manis.
"Ngapain lo disini? bukannya program siaran lo udah selesai dari jam 8 tadi kan?" tanya Nadin heran
"Lo nggak ngerasa ditungguin?"
"Gue gak minta buat ditungguin!" seru Nadin lalu berjalan cepat masuk ke dalam lift, lawan bicaranya juga ikut berlari masuk kedalam luft.
Orang itu tersenyum puas saat mereka berdua dalam lift. Nadin hanya diam.
"By the way, thanks udah mau ngangkat telfon gue.." Nadin memandang sbeel ke arah pemilik suara
"Ya gue rasa cuma orang dongong sok kebanyakan pulsa yang mau nelfon padahal ada di satu lantai yang sama dan hanya dibatasi kaca doang, Norak lo!" jawab Nadin panjang lebar, lawan bicaranya tertawa
"Gue kira lo hapal nomer gue,,:
"Gue sibuk, gak ada waktu buat ngafalin nomer lo!"
"Tapi kalo ngafalin nomer dia, lo ada waktu?" Nadin mendengus kesal
"Please ya Ren! gausah mulai, gue capek!" seru Nadin kesal, ia sedang tidak ingin berdebat.
"Oke sorry Din.." ucap Rendy penuh penyesalan
"Serah lo deh Ren." jawab Nadin. Tepat setelah berkata begitu pintu lift terbuka. Nadin berjalan cepat berniat meninggalkan Rendy. Nadin segera menuju tempat parkir, ternyata Rendy masih mengikutinya.
"Nadin udah malam. Lo pasti juga cape banget. Gue anterin pulang ya.." tawar Rendy tulus. Nadi berdehem lalu tersenyum tipis.
"Sorry Ren, gue bawa motor" Nadin berlalu menuju scoopy putihnya
"Tapi kan udah malem Din, naik mobil gue aja..!"
"Terus motor gue giamna? ditaruh di atas mobil lo gitu?" jawab Nadin sewot
"Ditinggalin disini aja, kan gapapa" jawab Rendy enteng, menatap keseluruh penjuru parkiran
"Gila lo" jawab Nadin singakt, lalu memakai helmnya dan bersiap menstater motornya,
"Kenapa lo gak bawa mobil aja kalo udah tau bakal pulang malam?" Nadin tidak menghiraukan celoteh Rendy " Kan bahaya Din malam-malam gini cewe bawa motor sendiri, apalagi udaranya juga dingin.. entar kamu sakit lagi. Din, Nadin dengerin gue dong! nebeng sama gue aja!" Nadin menjalankan motornya dan dengan sengaja hampir menabrak Rendy "What te fuck Ren" kata Nadin lalu meninggalkan Rendy. Masih terdengar suara teriakan Rendy memanggil namanya, Nadin menarik nafas panjang.
Kenapa semuanya jadi seperti ini? Harusnya bisa berjalan dengan mudah seperti dulu...
~bersambung
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar