Aku berjalan pelan memasuki ruangan ditemani mama dan papa, aku sudah biasa melakukan hal ini. Selain bersekolah dan melukis,kegiatan inilah yang paling sering kulakukan, ini bukan hal yang menyenangkan, jika kau tanya bagaimana perasaanku, jawabannya adalah lelah... lelah terhadap semua ini, lelah dengan sesuatu yang terjadi berulang-ulang kali tanpa ada kepastian yang pasti jika akan berakhir.. lelah.. ya aku lelah..
Aku lelah melihat raut wajah sedih mama dan papa, aku bosan, aku muak! aku tak sanggup jika harus membebani mereka begitu lama, mereka terbebani dengan sesuatu yang tak pernah ada akhirnya.., harusnya mereka membiarkanku hingga tidak harus terbebani.. Aku benci! aku benci diriku! aku benci semua hal yang membuatku diriku menjadi begitu tergantung dan membebani orang lain!
Oh God... aku ingin seperti gadis berusia tujuhbelas lainnya.. aku ingin hidup selayaknya gadis-gadis lain.., kenapa kau membuatku menjadi begitu lemah ya Tuhan? apa salahku?
Aku bahkan tak punya banyak teman, bagaimana bisa? sekolah saja aku dua kali dalam seminggu.. aku tidak punya banyak waktu dengan teman-temanku. Pacar? apa itu? aku bahkan tidak diperbolehkan mengerti apa itu arti cinta, kenapa? karena nantinya aku akan mengenal sakit,dan membuat orang yang mencintaiku merasa kehilangan.. , semua ini bukan hanya membuatku menjadi lemah, tapi juga membuatku menjadi seorang pengecut.. takut aku akan mengenal sakit? hahaha aku sudah merasakannya sejak lahir, aku tau semua tentang rasa sakit.. karna aku merasakannya.. karena aku mengalaminya..
"Pinkan...?" panggilan lembut dari mama membuyarkan lamunanku
"Kenapa hanya diam? sudah ditunggu om jeffian loh..." kata papa pelan,aku menggeleng
"Enggak kenapa-kenapa... "jawabku sambil tersenyum, papa mengusap lembut rambutku
"Pinkan,kamu harus kuat ya.. I love you shawty.."kata papa,lalu mengecup keningku. Aku menarik nafas panjang, mataku mulai berkaca-kaca
"I'm okay dad.. "suaraku terdengar parau ,ingin rasanya aku menangis sekencang-kencangnya lalu berlari dari semua ini dan menghilang begitu saja
"Pinkan... pinkan... hanya lelah pa..." kataku lagi, tak kuasa menahan air mata aku langsung memeluk papa, air mataku membahasi baju papa. papa hanya diam, aku harus kuat! kasihan mama dan papa yang melihatku begini terus! aku harus kuat! dengan cepat aku melepas pelukanku
"Maafkan aku pa, sekarang bajumu basah.."
"No problem Pinkan.., mamamu bisa membersihkannya.." kata papa sambil tersenyum, aku tertawa kecil
"Ya nyusahin mama lagi dong.." aku melirik mama, mama memasang wajah pura-pura kesal.
"Sudah...sudah.. ayo masuk,sudah ditunggu om Jeffian.."sambung mama cepat,lalu merangkulku masuk ke dalam ruangan om Jeffian
"Hai cantik.. gimana hari ini, ada masalah?" tanya om jeffian,setelah aku masuk ke dalam ruangannya. Aku tersenyum lalu menggeleng
"Bagus kalo begitu! kamu ikut sama suster suster Tamara ya, seperti biasa.." kata om jeffian, aku hanya mengangguk pelan. Albert apa kabar ya? dia lagi ngapain?
*****
"Hei, gue udah nungguin lama banget.." katanya pelan, nunggu? aku kan nggak janjian mau ketemuan sama dia..
"Nunggu? nunggu siapa?"tanyaku bingung
"Ya nunggu elo..."
"Tapi..tapi kita kan nggak pernah...."
"Udah gausah dipikirin,mau ikut gue nggak?" potongnya lalu tersenyum, aku menatapnya tak percaya
"Ha?kemana?"
"Ikut aja..."
"Tapi..tapi.. gue belom izin sama..."
"Hei,kenapa lo jadi pengecut gini?bukannya awal kita ketemuan lo garang banget ya?" dan lagi dia memotong kata-kataku, aku mendumel dalam hati. Tapi aku nggak bisa sebebas kamu Albert..
"Maaf,gue gabisa..."
"Kenapa? ayo ikut aja lo pasti seneng.." ia lalu menarik tanganku, entah mengapa aku pun mengikutinya,seolah ada yang mendorongku, ini dari hati..
"Gitu dong, lo pasti seneng..." katanya pelan,lalu mengajakku naik ke mobilnya. sepanjang perjalan aku hanya berdiam diri,larut dalam pikiranku...
"Diem terus dari tadi, lo marah ya?" aku menggeleng cepat, aku sedih tidak bisa bersamamu terus.. aku ingin terus bersamamu.. melewati hari-hariku denganmu..
"Terus kenapa?"tanyanya lagi
"Kapan nyampenya?gue udah gasabar.." kataku pura-pura ceria, tapi Albert tahu aku berbohong. dia menatapku seakan dia begitu menyudutkanku...
"Don't lie to me.."
"I'm fine Albert.. teruskan menyetirnya" dia mengangguk cepat, tetapi sesekali ia melirik ke arahku, meyakinkan apakah aku masih tetap ingin berbohong, entahlah!
*****
"Waw...." seruku senang, melihat apa yang ada didepanku sekarang.
"Kenapa?lo nggak pernah kesini?"tanya Albert kaget, aku tersenyum tipis
"Enggak... hehehe." Albert menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya
"Oh my gosh, are you kidding me?" tanyanya heboh,aku tertawa
"Trust me.." jawabku masih dengan tawa
"Okay.. kalo begitu ini menjadi yang pertama dan itu bareng sama gue..." aku memukul pelan bahu Albert, lalu tersenyum, Ia pun membalas tersenyum padaku. Deg! perasaan itu lagi... ini apa? begitu hangat dan..begitu bahagia.. perasaan apa ini? di sekolah guru-guru tak pernah mengajarkannya...
"Kalo gitu ayo..gue udah nggak sabar nyobain semua permainan di pasar malam ini.." seruku riang,mencoba menyembunyikan perasaan campur adukku. Dengan lembut ia lalu menggandeng tanganku mengajakku mencoba semua permainan di Pasar malam ini.
Dia memberiku tawa diantara keresahan hatiku,dia membuatku merasa begitu berharga, dan mewarnai hidupku tiap aku bersamanya, dia membawa keceriaan, dia memberiku kebahagiaan, dan mugkinkah dia memberiku arti cinta.........?
Aku begitu bahagia malam ini, dia mengajakku menaiki semua permainan,hampir semuanyaaaa... sampai aku benar-benar kelelahan,dan rasa sakit itu datang lagi.., tapi aku harus tetap bertahan karena masih ada satu wahana yang belum kami naiki yaitu bianglala
"Ayo Pinkan, ini wahana terakhir.." ajak Albert bersemangat, aku tersenyum lalu mengikuti dia menaiki wahana itu.
"Ini gue beliin arum manis,udah pernah makan belum?"tanyanya,lalu memberikan permen seperti kapas berwarna pink. aku menggeleng pelan.
"Astaga.. yaudah cobain deh, enak banget loh.." aku tersenyum, lalu mencicipinya. em.. enaknyaaa.. manis...
"Enak banget, maniss..."kataku girang,lalu mencoba lagi dan lagi, Albert tertawa
"Kenapa? ada yang lucu?"tanyaku heran
"Expresimu lucu banget, hahaha" jawabnya lalu tertawa lagi -_-
"Biarinn..." aku kaget saat bianglala mulai bergerak
"Heeehh.."jeritku ketakutan, Albert tertawa lagi
"Sialan, diketawain mulu dari tadi -_-" sambung kesal
"Hahaha, maaf.. gausah takut ada gue kok.."katanya pelan,aku langsung terdiam.. begitu banyak harapan huh?
"Hehe iya.." lalu aku terdiam lagi, Albert bagaimana perasaanmu terhadapku? terlalu banyak harapan Albert.. Aku takut ini hanya perasaanku saja bahwa ternyata kamu tak benar-benar menyukaiku bahkan, tak ada perasaan apapun terhadapku... Aku lalu menatapnya, rasa sakit di kepala tak ku hiraukan, aku masih menatapnya.. wajah cerianya.. lalu aku memalingkan wajahku ke langit malam, Entah sampai kapan aku bisa bertahan.. aku masih ingin terus bersama denganmu..
"Eh bentar deh, karna ini wahana kesukaan gue,kita gaboleh lupain momen ini, foto bareng yuk!" ajak Albert bersemangat, aku tertawa. Ternyata anak ini narsis juga, tapi apa maksutnya dengan momen? momen apa?
"Narsis banget.." Ia tertawa,lalu segera mengambil fotoku dan fotonya. Aku senang sekali hari ini, Ini hari terbaik seumur hidupku!
Tempat duduk kami di bianglala sudah hampir menuju tempat paling atas, dan kepalaku semakin sakit saja rasanya, sakit...sakit.. sekali.. aku melihat Albert begitu senang, dan akupun terhipnotis merasakan kesenangannya, tapi kepalaku terlalu sakit.. lalu, sayup sayup kudengar alunan musik..
How can I decide what's right?
When you're clouding up my mind
I can't win your losing fight all the time
When you're always taking sides
But you won't take me away my pride
No noth this time..
Not this time..
Ada apa denganku kenapa aku seperti mendengar musik begini, aku lalu memalingkan wajahku ke arah Albert, terlihat jelas senyum jail di wajahnya, astagaa -_-
"Lo yang muter musiknya? -_-"tembakku langsung, senyum jail di wajahnya semakin melebar
"Haha iya, keren kan?" jawabnya senang -___-
"Apa banget dah lo -_-"
"Hehe,biar romantis Pinkan..." katanya pelan, aku terdiam lagi.. benar kan apa kataku? terlalu banyak harapan, jadi tak salah bila aku terlalu banyak berharap. Alunan musik masih terus menemani malam ini bersama Albert.
Arrgghhhh sakit sekali... sakit sekali... aku sudah tak tahan lagi, aku melirik ke arah Albert, dia seperti mengatakan sesuatu, tapi duniaku serasa berputa-putar
"Tau nggak, semenjak hari pertama kita bertemu Pinkan...sejak lo ngelukis nenek gue, gue selalu datang ke taman itu.. berharap Pinkan.. gue selalu berharap lo akan datang.. gue selalu berharap.. hingga akhirnya hari ini kita bisa bersama...." sayup-sayup kudengar kata demi kaat yang diucapkannya, aku ingin menangis saja mendengarnya.. sakit ini... terlalu sakit.. maafkan aku Albert.. aku sudah tak kuat lagi.. aku.. aku.....
*****
Perlahan aku membuka mata, tempat ini... sudah tak asing lagi. kenapa aku ada di Rumah Sakit? aku mencoba mengingat-ngingat kejadian apa yang terjadi..., aku lalu melihat sekeliling ruangan ada mama sedang tertidur di sofa.
"Maa....."panggilku lirih, mama langsung terbangun, wajahnya terlihat lelah sekali.. dan lagi aku membuat orang tuaku repot seperti ini, dan lagi aku menyusahkan mereka...
"Pinkan.. kamu sudah bangun nak.."dengan sigap mama mendekatiku,lalu megusap rambutku dengan lembut.
"Pinkan kenapa lagi ma?"
"Kamu pingsan kemaren..."
"Albert mana ma?"tanyaku cepat, Albert dimana? benar! kemaren di pasar malam.. aku ingat semuanya!
"Cowo itu ya..."
"Iya ma? dimana?!" dengan cepat aku bangun dari tempat tidurku
"Kamu tenang dulu.. tadi dia barusan pulang,mama suruh pulang.. kasian dia dari kemaren nungguin kamu..." jawaban dari mama semakin membuatku merasa bersalah, maafkan aku Albert...
"Oh ya,jadi bagaimana perasaanmu sekarang sayang?" tanya mama dengan raut wajah sedih.
"Udah baikan ma.."
"Jantungmu semakin lemah saja Pinkan.. maafkan mama, tapi mama harus mengatakan yang sebenarnya Pinkan..." mama menangis, aku terdiam. Hatiku terasa begitu sakit.. sakit.., waktuku sudah tidak lama lagi rupanya... mama langsung memelukku. Aku tak bisa menangis, hanya sakit yang kurasa..
"Iya ma, Pinkan tahu.. Pinkan udah mau mati ya ma?"tanyaku dengan tatapan kosong. tangisan mama semakin menjadi
"Kamu jangan ngomong begitu Pinkaann...."
"Kenapa ma? memang begitu kan kenyataanya? dari kecil ma.. dari kecil Pinkan udah ngerasain sakitnya ma.. dari kecil Pinkan sudah ngerasain jarum suntik, hidup di Rumah Sakit! Pinkan capek ma!! Pinkan nggak marah sama Tuhan kok! malah Pinkan bersyukur, Pinkan jadi bisa menghargai waktu, dan akhirnya Pinkan bisa pergi juga ma...pergi ke surga...." aku menghentikan kata-kataku, mama menangis histeris lalu memelukku lagi, mama harus tegar! Pinkan aja tegar kok ma...
"Nggak usah nangis ma.. cepat atau lambat Pinkan juga akan mati kok.."kataku lagi..
"Pinkaann......" jerit mama histeris, aku hanya tersenyu tipis.
*****
Hari ini, tepat seminggu setelah kejadian di Pasar malam itu.. aku masih berharap Albert akan datang menemuiku. Tapi siapa sih yang mau ketemu sama cewe penyakitan kaya aku? gak ada kan hahaha..
Albert pasti udah ilfil sama aku,karena aku penyakitan..
tiba-tiba..
Aku mendengar suara ketukan pintu
"Masuk.."kataku pelan. Pintu terbuka dan aku tak bisa bernafas saat melihat siapa yang datang
"Albert?!"jeritku histeris. Aku senang sekali melihatnya datang
"Em..hi.. Pinkan.." dengan ragu-ragu dia datang mendekatiku
"Kenapa? lo pasti udah ilfil banget yah sama gue? iyakan? udah nggak usah jengguk gue deh.."
"Lo kok ngomong begitu sih?"
"Emang kenyataannya gitu kan?"
"Enggak kok!" sergahnya cepat "Gue mau ngajak lo ke taman hari ini,lo mau?"sambungnya lagi, aku tertegun
"Emang dibolehin sama mama?"
"Boleh kok,tadi gue udah izin.. ayo ini penting banget buat gue.."katanya sedikit gelisah.
"Kenapa? oke gue ganti dulu.."
"Enggak.. nggak usah... biar aja pake piyama.."sergahnya cepat , aku mengangguk. Dia kelihatan aneh, kenapa? apa dia mau mutusin hubungan pertemanan denganku? erggh entahlah..
Aku lalu mengambil jaketku, diluar mama dan papa sudah berdiri menatapku.
"Ada apa?" tanyaku heran, mereka lalu memelukku erat sekali, seakan aku kan pergi dan tak kembali
"Kamu sudah besar Pinkan.."kata mama lirih
"Mama papa sangat menyayangimu Pinkan, kau harus tau itu!!" sambung papa, aku menatap mereka berdua bergantian
"Iya aku sudah lama tau, ada apa sebenarnya?"tanyaku lagi, mereka memelukku lagi, mama dan papa mencium keningku. Aku semakin heran melihat mereka. Ada apa sebenarnya?!
"Ada apa sebenarnya?" tanyaku penasaran, mama dan papa tersenyum kepadaku. mata mama mulai berkaca-kaca
"Enggak nak, pergilah kami sudah mengiklashkanmu.."
"Mama.. Pinkan cuma sebentar kok,terus balik lagi.."
"Iya nak.." aku tersenyum lalu, pergi mengikuti langkah kaki Albert.
******
"Albert kita mau ngapain?" tanyaku penasaran, setelah sampai di tempat pertama kali kami bertemu. Ia tersenyum ragu lalu mendekatiku
"Masih inget waktu pertama kali kita bertemu?" aku mengangguk
"Nenek menanyakan kabarmu.."
"Terus jawaban dari lo?"
"Gue bilang kalo lo baik-baik aja...."
"Kenapa lo bohong?"
"Karena itu yang gue harapkan.."
"Mengharapkan sebuah kebohongan?"
"Iya Pinkan!"
"Mungkin hanya sebatas harapan Albert.. lo masih inget apa yang gue bilang waktu mau pergi dari taman waktu itu?"
"Banyak-banyak berharap deh lo......."
"Iya,dan itu berlaku juga untuk harapan lo yang sekarang" ia tersenyum tipis, tiba-tiba jantungku terasa begitu sakit. Please not now..not now..
"Pinkan gue mau buat pengakuan.." Albert lalu mengenggam tanganku, lalu mentapku.. tatapan itu, sama seperti saat aku akan pergi dari taman ini
"Apa?"
"Lo tau? gue nggak pernah permasalahin penyakit lo.. dan semua itu malah membuatku takut kehilanganmu.. lo percaya cinta pada pandangan pertama?itu yang sekarang gue rasain.. sejak pertama kali kita bertemu, saat lo marah-marahin gue, saat lo ngelukis nenek, saat lo membuat nenek begitu senang, semua itu membuatku yakin pada perasaanku. Saat di Pasar Malam itu hari terbaik gue, gue belum pernah pacaran sebelumnya, jangan ketawa! karena gue bukan tipe orang yang hanya mencari status hubungan, tapi gue nyari cinta sejati. dan semuanya itu ada di diri lo... sebelumnya gue minta maaf, selama seminggu gue nggak pernah njengukin lo, itu karna gue masih nguatin diri gue, dan tetap nguatin cinta gue, walaupun gue tau nanti pasti bakal kehilangan lo.. tapi siapa peduli, semua orang juga pada dasarnya akan pergi..Jadi gue mau lo tau..." ia terdiam sebentar, aku sungguh-sungguh tak percaya dia akab berkata begitu, tapi jantungku terasa sakitt sekali, jangan sekarang.. jangan sekarang... jangan di momen bahagiaku ini. Dengan cepat aku memeluk Albert.., dengan sekuat tenaga aku menahan sakit ini..
"So.. would you be mine?"tanyanya , hatiky terasa bergetar dan tangisku pecah. sayup-sayup kudengar alunan musik..
Marry me juliet, you'll never have to be alone
I love you, and that's all I really know
I talked to your dad - go pick out a white dress
It's a love story, baby just say.. yes
we were both young when I first saw you..
sakit sekaliiii... sakit.. sakit.. Albert mungkin ini.. sudah waktunya.. maafkan aku..
"Albert.. I'm sorry.. Albert I really love you... Albert you're my first love.. Albert.. goodbye.." itulah kata-kata terakhirku.. aku sudah tidak kuat lagi.. I love you mom dad.. I love you all.. thanks for everything..
"Pinkan..Pinkan.." Albert melepas pelukannya dari Pinkan . wajah cantik Pinkan terlihat begitu tenang..Pinkan telah berpulang..
"PINKAAAAAAAAAANNNN!!!!!!!!!" teriak Albert histeris. lalu menggendong Pinkan ke mobil.
"Pinkan... Pinkan.. bangun pinkan..." bisik Albert, air matanya mulai menetes. Ia lalu melihat kantong baju Pinkan , dan dia menemukan sebuah surat.
Dear Albert..
Aku sudah tau jika waktuku tinggal sebentar lagi.. aku cuma ingin kau tau ,kalo aku begitu menyayangimu.. Albert jangan salahkan aku jika aku terlalu banyak berharap denganmu..
Terimakasih buat semuanya.. kau adalah orang pertama yang membuatku bisa melukis.. ya melukis cinta..
Albert tertunduk, dan menangis sekencang-kencangnya.., seharusnya dia sudah menyiapkan diri untuk kehilangan orang yang dicintainya, karena cinta tak harus memiliki....
~SELESAI~
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


bagus dek dan berhasil bikin gue menitikkan air mata :") *tisu mana tisu?* *crooooot*
BalasHapuskeep writing ya ;)
emaaaak hiks tuh kan cerita elu tuh kagak ada yang kagak 'awesome' semuanya bikin gue kagum sama elu mak muah deh mak :* *sifokbajir*
BalasHapusmaaaak gue juga pengen dibikinin cerita dums sama Niall ;)
@kak nened: makasih kak hiks..nih tissu *lemparkulkas*
BalasHapusiya kak :"" mohon dukungan dan doa restunya, ane mau kawin*ehh
@natasia: Naaattt.. jangan begitulah kau, cerita kau juga AWESOME semua.. terharu aku natt.. :" jangan sifok sifok lu -_- hahaha
iya,nanti gue buatin . kalo ada waktu... biasalah gue kan emang sibuk. banyak panggilan buat nyuci sama tetangga -_-
haha apaan mak -__- okedah mak jangan lama-lama yow selak Zayn tak rebut seko koe wkwk :p
BalasHapushahahy -_-
BalasHapusheeehhh!!!! jangan bawa-bawa Zayn! dia udah milikku sepenuhnya,gaboleh di rebut2 wkwk *setres*
ya nak -_- aku beri restu untuk mu *eaaak
BalasHapusTerimakasih emak *cipikacipiki*
BalasHapus